Dua Jenis Italia

by vetriciawizach on Senin, 16 Juli 2012

Sebagai tim unggulan, hanya ada satu jalan agar Italia lolos ke babak selanjutnya: menang lawan Irlandia dan berharap Spanyol menaklukkan Kroasia! Hasil imbang antara tim asuhan Vicente Del Bosque dan Slaven Billic, dengan skor 2-2 atau 3-3, berarti tim Azzuri mengulangi mimpi buruk mereka dua tahun lalu, yaitu tersingkir di babak grup.

Mengarsiteki Irlandia, Trapattoni familiar dengan keadaan yang dihadapi oleh Prandelli. Delapan tahun lalu lelaki tua yang dikenal dengan julukan 'Mr. Trap' ini pun membutuhkan hasil yang sama agar Italia tidak tersingkir dari ajang Piala Eropa 2004. Italia membutuhkan kemenangan dari Bulgaria dan berharap Denmark, serta Swedia tidak bermain seri dua sama.

Apa lacur, saat wasit meniup peluit panjang papan skor menunjukkan hasil imbang antarkedua negara Skandinavia itu. Denmark mencetak dua gol, dan Swedia dua gol.

Terlepas apakah nanti sejarah akan berulang, pertemuan antara Prandelli dan Trapattoni ini menarik untuk diamati karena merepresentasikan dua ujung spektrum yang berbeda. Di ujung yang satu berdiri Trapattoni, salah satu nabi catenaccio Italia. Di ujung yang lain, ada Prandelli yang mencoba melawan arus sepakbola pragmatis yang mendarah daging di Seri-A dengan sepakbola indahnya bersama Fiorentina.

Trapattoni, dengan Juventus dan Inter Milan-nya, adalah simbol dari kejayaan liga Italia di era 1980-1990, liga yang bertabur dan melahirkan pemain kelas dunia. Sementara era Prandelli adalah era saat Seri A kehilangan harga dirinya karena kasus calciopoli, kegagalan regenerasi, sehingga akhirnya ditinggalkan secara perlahan oleh publik dunia. Italia lama versus Italia baru


Giovanni Trapattoni

Tak butuh banyak imajinasi untuk memahami mengapa Mr. Trap menganut pola bermain defensif. Sepanjang karirnya sebagai pemain defensive midfielder, atau mediani dalam istilah Italia, ia bertugas untuk melakukan kerja kasar di lapangan tengah dengan tekel-tekelnya. Trapattoni dikenal sebagai pemain bertipe francobollatore -- seseorang yang menempel erat lawannya bagaikan perangko yang menempel pada kertas surat. Bahkan seorang Johan Cruyff pun kesulitan untuk lepas dari man-marking Trapattoni pada saat Ajax bertemu AC Milan pada final Piala Eropa 1969 (sekarang Liga Champions).

Di AC Milan Trapattoni mendapatkan langsung pelajaran tentang sepakbola bertahan dari sang pelatih, Nereo Rocco, guru catenaccio yang menyempurnakan gaya permainan ini di Italia. Setelah melewati karir yang sukses sebagai pemain, Trapattoni kemudian mencicipi pengalaman sebagai pelatih dengan menjadi asisten Rocco.

Dikenal sebagai titisan Rocco, Trapattoni bahkan mengadopsi kebiasaan Rocco berteriak-teriak kepada pemainnya sepanjang pertandingan.

Tahun 1977 Trapattoni kemudian berlabuh di kota Turin dan melatih Juventus. Dengan klub berkostum hitam-putih inilah kemudian ia menjadi salah satu pelatih tersukses Italia hingga saat ini. Tim Juventus yang ia bentuk di awal dekade 80-an dikenal sebagai salah satu yang terkuat dalam sejarah Seri A, berisikan pemain-pemain timnas Italia seperti Paolo Rossi, dan pemain asing kelas dunia seperti Michel Platini.

Total 10 gelar liga, 3 piala kompetisi Eropa, dan gelar-gelar piala domestik lainnya berhasil ia dapatkan selama melatih klub baik di dalam maupun luar Italia. Prestasi yang sampai saat ini mungkin hanya bisa disamai oleh Fabio Capello.

Namun pencapaian Trapattoni di level klub kontras dengan apa yang ia lakukan untuk timnas Italia pada periode 2000-2004. Memang, pemanggilan Mr. Trap ke timnas sendiri dinilai telat oleh berbagai kalangan. Ia mengambil alih tim Azzuri dari tangan Dino Zoff saat usianya 65 tahun dan energinya nyaris habis. Saat filosofinya dicibir oleh seluruh dunia karena tak punya tempat lagi di sepakbola moderen.

Hasilnya pun mengenaskan. Di Piala Dunia 2002 Italia hanya mendapatkan satu kali kemenangan di babak grup dan akhirnya kalah di tangan tuan rumah Korea Selatan. Di Piala Eropa 2004, Italia tak lolos fase grup karena Denmark dan Swedia bermain imbang dan memiliki raihan gol yang lebih baik. Suporter dan jurnalis Italia pun lalu tak segan untuk melancarkan kritik pedas pada Trapattoni atas keputusan-keputusannya di lapangan yang dinilai terlalu negatif.

Namun pelatih berusia 72 tahun ini tak pernah meminta maaf pada siapapun atas filosofi sepakbolanya yang membosankan dan tak enak untuk dinikmati. Menurutnya, orang-orang yang ingin melihat "pertunjukan" lebih baik pergi saja ke panggung pertunjukan sebenarnya. Baginya, "pertunjukan ya pertunjukan. Hasil ya hasil."

Cesare Prandelli

Seperti sudah ditakdirkan oleh para dewa sepakbola, Prandelli mengawali debutnya di depan publik dunia dengan bermain melawan Spanyol di pertandingan pembuka Piala Eropa. Tentu bukan debut dalam artian sebenarnya, karena ia sudah menjadi pelatih timnas Italia selama dua tahun. Tapi debut dalam artian bahwa inilah pertama kalinya tim Italia muncul dalam sorotan setelah kegagalan total Marcelo Lippi di Piala Dunia Afrika Selatan.

Tidak ada panggung yang lebih tepat, untuk mencuri perhatian publik, dibandingkan melawan negara nomor satu di dunia yang juga memiliki filosofi sepakbola bertolak belakang. Pertemuan dua juara dunia terakhir kali. Tiki-taka versus catenaccio, demikian pandangan umum di awal pertandingan ini.

Bahwa ia berhasil mengejutkan publik dengan gaya sepakbolanya yang jauh dari kata defensif, tentu sudah lama diketahui oleh pecinta Seri A dan orang-orang yang menunjukknya sebagai pelatih.

Setelah hasil imbang di matchday pertama itu, harian terkemuka La Gazzetta dello Sport pun merestui gaya sepakbola Prandelli dengan headline: "Bell'Italia Ti vogliamo cosi!". "Italia yang cantik, beginilah kami menginginkanmu!"

Berbeda dengan Trapattoni yang mendapatkan kursi kepelatihan Italia setelah meraih serentetan gelar di level klub, Prandelli belum memiliki satu pun piala yang bisa ia banggakan. Tapi ia merupakan salah satu pelatih kesayangan Italia yang dikenal karena berhasil membangun kembali Fiorentina dari titik nol.

Klub asal kota Florence, yang baru kembali ke Seri A setelah mengalami kebangkrutan, perlahan ia bangun dan kemudian dibawanya ke kompetisi tertinggi klub eropa: Liga Champions. Bahkan dengan skuad yang sederhana, Fiorentina berhasil lolos dari fase grup dan hanya tersingkir di babak 16 besar oleh Bayern Muenchen melalui gol offside Miroslav Klose. Semua ia lakukan dengan memainkan sepakbola indah.

Sebagaimana ia mengembalikan senyum dan kebanggaan penduduk kota Florence akan Fiorentina, Prandelli mengemban tugas yang sama di tim nasional Italia. "Saya sadar bahwa tujuan utama saya saat mengambil alih tim azzuri bukanlah semata-mata untuk mengembalikan hasil di lapangan," ujarnya pada suatu wawancara. "Saya tidak tahu kapan Italia akan mulai menang lagi. Tapi saya tahu bahwa yang saya harus lakukan adalah mendekatkan lagi tim nasional kepada rakyat Italia."

Sungguh ironis memang bahwa yang berada di antara Prandelli dan mimpi akan kebangkitan sepakbola Italia adalah anak emas yang lahir dari kejayaan Seri A dan simbol dari sepakbola pragmatisme itu sendiri. Seakan bertarung dengan masa lalu, jika ingin mengubah opini tentang Italia yang lambat, defensif, dan membosankan, maka Prandelli pun harus berhasil mengalahkan master dari sepakbola jenis itu: Giovanni Trapattoni.


Published on "Catatan Piala Eropa"