Real Madrid: A Football Brand

by vetriciawizach on Senin, 05 November 2012




"Signing stars is not spending money, it is investing it" – Florentino Perez.

Michel Platini boleh mengkritik Florentino Perez habis-habisan di media. Ia bisa mengatakan bahwa jumlah transfer Ronaldo dan Kaka tidak masuk akal dan menghina kecerdasan. Ia juga mampu untuk menyerukan pada klub-klub lainnya agar tidak mengikuti jejak Real Madrid. Tapi, satu hal tidak akan berubah: Perez sedang membangun Galacticos keduanya.

Bagaimana tidak? Total uang yang dikeluarkan Perez hanya untuk kedua mantan pemain terbaik dunia ini sudah mencapai 150 juta euro. Ia pun tak akan berhenti sampai disini. Dalam beberapa wawancaranya, Presiden Madrid ini mengatakan bahwa ia akan mendatangkan kurang lebih enam pemain di era kepemimpinannya. Jika dahulu ia mendatangkan pemain-pemain kelas dunia dalam beberapa tahun, kali ini proses tersebut ingin dipercepat. “Kita harus melakukan apa yang normal kita lakukan dalam tiga tahun hanya dalam waktu satu tahun,” ujarnya. Nampaknya Perez ingin revolusi!

Perez sendiri sebenarnya bukan sedang membangun tim yang cukup kuat untuk menyaingi Barcelona yang notabene rival terbesarnya (jika ingin melakukan hal itu, hal pertama yang ia lakukan harusnya bukan membenahi barisan penyerang).

Apa yang dikerjakan Perez adalah membentuk lagi identitas Real Madrid. Ia ingin menempatkan Madrid pada posisi yang seharusnya: sebagai pusat perhatian dan sebagai sebuah brand sepakbola nomor satu dunia. Tak akan ada yang menyangkal kalau ia sekarang berhasil melakukan hal tersebut. Media mana yang tak sibuk memberitakan prihal transfer Ronaldo dan Kaka?

Dengan keberhasilannya mendapatkan Ronaldo dan Kaka, Perez pun seolah menunjukan kredibilitasnya sebagai Presiden dan negosiator ulung. Di bawah kepemimpinan Calderon dan Boluda, Madrid telah menjadi bahan tertawaan dunia. Calderon pernah menjanjikan Kaka, Ronaldo, dan David Villa. Namun apa daya, ia ‘hanya’ mampu menarik Robben dan sederet pemain belanda lainnya. Jauh dari glamour apalagi perhatian dunia. Boluda, dalam masa singkat pemerintahannya, pun tak mampu berbuat banyak. Hinga kini ia akan dikenal sebagai presiden yang berkoar bahwa Madrid akan menghancurkan Liverpool di Anfield. Kenyataannya, seminggu setelah ucapan itu keluar Madrid dipermalukan 4-0.


Perez memang negosiator handal. Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Michael Owen, Ronaldo (Brazil) telah ia bawa. Kini Kaka, Cristiano Ronaldo, dan entah berapa pemain bintang lagi akan ia datangkan.

Bagaimana Bisa? Kenapa harus Galacticos?

Baca selengkapnya »

Meramal Masa Depan Sepakbola Eropa di Era Financial Fair Play

by vetriciawizach


Financial Fair Play.

Sekilas konsep ini terdengar indah di telinga dan seakan menjanjikan suatu pembebasan bagi para fans sepakbola yang sudah muak dengan klub yang bersaing secara tidak sehat. Pembebasan dari klub-klub seperti Chelsea, Manchester City, PSG, atau Zenit, yang dengan santainya menggelontorkan uang ratusan juta poundsterling untuk transfer dan gaji pemain. 

Didukung kekuatan finansial yang berasal dari ‘oil money’, secara tak sadar klub-klub tersebut telah merusak tatanan sepakbola Eropa dengan kekuatan finansialnya. Terutama dalam masalah inflasi gaji.

Jika dihadapkan pada dua pilihan, klub lain atau Man. City/Chelsea/PSG, para pemain tentu akan berpikir dua kali untuk menolak kenaikan gaji dua kali lipat. Hal ini mengakibatkan klub-klub lain harus menawarkan gaji lebih dari biasa bagi pemain incarannya. Tak berhenti sampai disitu. Pemain-pemain dengan level kemampuan yang sama dengan pemain di klub kaya pun mulai menuntut untuk dibayar dengan ‘rate’ yang sama. Sebagai contoh, misalnya, Luka Modric. Dengan kemampuan teknik setara dengan David Silva atau Juan Mata, jangan heran jika agennya Modric akan menuntut pada klub untuk dibayar setingkat dengan kedua pemain tersebut.


Namun, meningkatkan gaji Modric (contoh) pun tidak selalu menjadi solusi. Teman-teman satu tim sesama pemain inti bisa saja cemburu dan juga meminta agar gaji dinaikkan. Akibatnya anggaran untuk gaji pemain meningkat pesat.


Demikian pula dengan harga transfer pemain. Klub-klub yang memiliki pemain bagus berlomba-lomba mendapatkan harga jual yang minimal setara dengan harga yang ditawarkan oleh Man. City atau Chelsea. Apalagi jika sudah menyangkut pemain berkebangsaan Inggris. Dengan adanya aturan minimal 7 pemain homegrown di dalam skuad yang didaftarkan, maka harga pemain berkebangsaan Inggris pun melonjak drastis. Semua klub berebut mendapatkan pemain Inggris paling berbakat, dan mereka bersaing dengan Manchester City dan Chelsea dalam membeli. Maka jangan heran jika pemain sekelas James Milner bisa dibeli dengan bandrol senilai £ 26 juta oleh Man. City.


Untuk mengatasi  ini, Michel Platini dan beberapa petinggi UEFA lainnya lalu menawarkan suatu konsep Financial Fair Play.

Baca selengkapnya »

Kisah Lain Sepakbola Modern dari Friuli

by vetriciawizach


Dia bukan klub besar tapi konsisten berada di level atas Liga Italia. Dia bukan klub kaya tapi neraca keuangannya selalu positif. Dia adalah sebuah kisah lain sepakbola modern.

Pada pertandingan El Classico antara Barcelona dan Real Madrid pada 7 Oktober 2012 lalu, terhitung 96.589 orang datang menyaksikan langsung pertarungan antara dua klub terbaik di Spanyol itu. Kapasitas stadion klub asal Catalan itu terisi penuh. Namun, jumlah yang cukup fantastis itu tak hanya dapat mengisi satu stadion Camp Nou. Jika ke-96 ribu orang tersebut dipindahkan, mereka pun dapat mengisi satu kota kecil di timur laut Italia: Udine.

Di kota kecil itu pada 1896 berdiri Udinese Calcio, salah satu klub tertua di Italia setelah Genoa. Cerita tentang Udinese adalah cerita tentang "Sang Zebra Kecil" ( Zebrette – julukan Udinese) yang dengan kepintarannya mengelola keuangan dapat bertahan melawan arus sepakbola modern yang menggerus klub-klub kecil.

Dalam sepakbola modern, kuantitas sudah jadi segalanya bagi klub. Di balik sihir tendangan bebas Cristiano Ronaldo, tarian Lionel Messi dan aksi-aksi pemain top di lapangan hijau lainnya, sepakbola menyuguhkan realita tak terbantahkan: klub-klub kecil yang berjuang menentang takdir sebagai klub kasta bawah. Menentang takdir di sini bukan dalam artian menyaingi klub papan atas dalam meraih piala, namun hanya sekedar untuk ada. To exist. 


Demikian pula dengan Udinese. Berada pada kota dengan jumlah penduduk kurang lebih 100 ribu jiwa tentu jadi suatu tantangan tersendiri bagi sang pemilik, Giampaolo Pozzo. Kapasitas Stadion Friuli, sebesar 30 ribu orang, tiap tahunnya rata-rata hanya terisi setengahnya. Bahkan, menurut salah satu blog finansial Swiss Ramble, hasil dari penjualan tiket stadion selama satu musim untuk Udinese hanya menyamai satu kali matchday-nya Manchester United. Total pemasukan Udinese selama satu tahun juga lebih kecil dari seluruh tim yang bermain di EPL.

Namun itu tak menghentikan Udinese untuk menunjukkan tajinya di Serie-A. Pada dua musim terakhir Udinese mampu bercokol di zona Liga Champions, sementara sang kapten Antonio di Natale berada di urutan teratas daftar pencetak gol. Francesco Guidolin, sang allenatore, pun pada musim lalu dianugrahi gelar pelatih terbaik atas prestasinya di liga.

Tapi capaian terbaik Udinese sebenarnya terletak pada konsistensinya berada di Serie-A. Semenjak musim 1995/1996 Udinese memang belum pernah lagi terdegradasi ke Serie-B. Padahal, di periode yang sama, klub-klub yang terhitung lebih besar, seperti Fiorentina, Napoli, Sampdoria, atau Parma, pernah terpuruk di divisi bawah bahkan sampai mengalami kebangkrutan. Belum lagi jika bicara mengenai klub dari kota kecil lainnya seperti Catania, Siena, atau Chievo yang tak pernah lama bertahan di Serie-A.

Lalu bagaimana caranya Zebrette mampu mengakali ketatnya kompetisi? 

Baca selengkapnya »