Di sportblog the Guardian beberapa orang berkomentar bahwa hasil 0-0 yang terjadi di leg pertama merupakan hasil yang baik untuk para pecinta sepakbola. Bahasa yang mereka gunakan adalah: it’s fairly balanced. Karena MU tidak mencetak gol di kandang lawan, maka Barca akan dipaksa untuk mencetak gol di kandang lawan, meski tidak harus menang. Sedang MU pun harus mencetak gol dan menang untuk dapat lolos ke babak final. Dengan demikian masing-masing tim harus menyerang dan kejadian seperti minggu lalu (MU bertahan dan Barca menyerang) dapat terhindarkan. Tinggallah para pecinta sepakbola indah yang harusnya terpuaskan dengan permainan yang menarik.
Hasilnya? Permainan memang lebih atraktif dibanding minggu lalu. MU tampil percaya diri untuk menyerang, demikian juga Barca. Tapi jika disuruh menilai kemenarikan tingkat pertandingan ini, saya hanya memberikan nilai 6,5.
Di sisi MU saya harus memberikan acungan jempol untuk Tevez dan Ji-Sung. Mereka tampil dengan semangat tinggi. Berkali-kali mereka melakukan counter-attack dengan cepat dan cukup membuat para suporter Barca terkena serangan jantung. Tak hanya menyerang, mereka juga aktif mengambil bola. Ji-Sung juga sering memberikan umpan-umpan matang yang membuat saya bangga sebagai orang asia.
Tapi, jika bicara soal hasil, pertandingan ini buat saya mengecewakan. Hanya ada dua peluang emas yang hampir membuahkan gol. Satu lewat sundulan Nani yang tidak terarah (umpan Ji-Sung) dan satu lagi lewat tendangan Tevez yang di blok oleh Valdez. Gol Scholes pun lahir oleh aksi pribadinya. Dia menyambar bola buangan Zambrota, dan, dibanding menyusun serangan, dia memilih untuk langsung menendang keras ke gawang. Minimum effort of his team there, pure his own ambition.
Sedang Barca adalah antitesis dari MU. Entah mengapa para pemain Barca kurang memiliki ambisi dan semangat seperti Scholes. Mereka sering kali menyusun serangan dengan rapih dan cepat. Tetapi ketika memasuki kotak pinalti, mereka menurunkan kecepatan dan menunggu anggota tim lainnya (yang pastinya dimanfaatkan oleh pemain-pemain MU untuk secepat mungkin kembali bertahan).
Samuel Eto’o pun tak segarang biasanya. Eto’o di dua atau tiga tahun lalu tidak akan memainkan bola. Ia pasti langsung memutar badan dan menendang sekeras mungkin ke arah gawang (oh..how I miss those days). Dalam melakukan serangan balik dia tidak akan menunggu timnya. Ia akan berlari secepat mungkin dan menendang sekeras mungkin. Eto’o yang sekarang...entahlah.
Serangan-serangan Barca juga mudah sekali terbaca oleh pemain belakang MU. Shoot on target Barca lebih banyak, tapi Van Der Sar tampak nyaman menjaga gawang. Dalam menyerang Barca sangat-sangat-sangat mengandalkan Messi. Berkali-kali ia menusuk lewat kanan, kiri, tengah, atas, bawah (hehe) dan memberikan umpan-umpan matang, yang sayangnya telat disambar oleh teman-teman satu timnya. Iniesta tampil dibawah performa terbaik, begitu pula Xavi. Buat saya, Barca tidak mendapatkan (atau tidak menciptakan?) momentum yang tepat untuk menyerang MU.
Saya selalu mengasosiasikan bek-bek MU dengan dinding yang tebal. Perlu momentum-momentum yang cepat, keras dan berulang untuk menghancurkannya. Keterulangannya sih sudah dapat, tapi kurang daya gedornya.
Tak hanya masalah tim terbaik, pertandingan ini diasosikan oleh orang-orang untuk menilai mana pemain yang lebih hebat. Ronaldo atau Messi. And for me, Messi still outclassed Ronaldo. Messi itu melayani pemain-pemain lainnya. Dia menjemput bola, mengatur serangan, membuka ruang dan memberikan umpan-umpan matang. Kalaupun dilanggar, dia hanya melihat wasit. Kalau pelanggaran ya tendangan bebas, kalau tidak ya dia teruskan bermain. Bukan mengeluh, bukan berteriak ke wasit dan, not like some other players, bukan mengangkat tangan ke atas dan berkata “Why?? Oh Why”.
Visinya pun luar biasa. Untuk seorang yang berusia muda dia sudah menjadi tulang punggung tim sekelas Barca. I just can't wait to watch him at World Cup 2010 along with Masche, Tevez and Kun Aguero.
**
1. Ronaldo..Ronaldo. Setelah gagal mengeksekusi penalti di Camp Nou, dalam konfrensi pers dia berkata: “No problem. Now I’m gonna score at Old Trafford”. Hari ini terbukti, dia tidak mencetak gol atau menciptakan peluang emas. [sigh]
2. Saya kagum betapa berkembangnya sepabola modern saat ini. Nampaknya semua pemain dapat melakukan apapun. Minggu kemarin, Rooney berlari sampai kebelakang untuk membantu pertahanan. Hari sabtu, Shevchenko menjadi pahlawan Chelsea ketika menghalau bola dari garis gawang. Hari ini, Tevez menjegal Puyol yang overlaping di dekat kotak penalti MU. A striker for a defender, eh?
3. Salah satu hal yang membuat pertandingan ini menarik adalah duel antara Zambrotta dan Ronaldo. Dan sungguh saya terhibur melihat Ronaldo yang berkali-kali dianggap melakukan pelanggaran, bahkan sampai diberi kartu kuning. And as usual, Ronaldo came up with the theatrical act again. Hmm..looking forward for Italy meeting Portugal in June.
Posting Komentar