Waktu di pojok kanan layar monitor menunjukkan menit 94:00 dan saya pun tersenyum. Pasukan merah ini akan mengantongi kemenangan pikir saya ketika satu sundulan “terarah” dari Riise mengoyak gawang Reina. Ooh...kini si merah harus berjuang lebih keras di London.
Beberapa menit berlalu dan satu air mata pun menetes. (satu doang loh!!)
Satu sms dari sesama liverpudlian masuk: “ternyata mencetak dua gol di kandang sendiri tidak cukup aman membawa liverpool ke final, hehe” tidak berhasil menghibur saya. Sambil meringkuk di bawah selimut saya memutar kembali detik-detik terakhir pertandingan tadi. Bayangan adanya cabang-cabang waktu di buku “Mimpi-Mimpi Einstein” membuat saya berandai-andai.
Di cabang yang satu, Riise tidak menyundul bola tersebut. Dia hanya menghalangi Anelka, kemudian bola lewat begitu saja lalu wasit meniup peluit. Dan ketimbang tangis penyesalan Riise, senyum Kuyt kemudian menghiasi sorotan akhir kamera.
Di cabang kedua, sundulan Riise terhalang oleh tiang. Komentator tidak penting di RCTI, yang dengan kejamnya mengatakan Lyam Harker sudah meninggal, akan berkata “hampir saja liverpool melakukan satu kesalahan kecil yang berakibat fatal”, dan saya lalu akan segera meringkuk di bawah selimut dan tidur dengan tenang.
Di cabang ketiga ada wasit yang meniup peluit lebih awal. Yah...wasit meniup peluit lebih dulu beberapa detik itu suatu kewajaran bukan? Apalagi menimbang tambahan waktu 4 menit yang entah datang dari mana.
Di cabang keempat, pemain liverpool berhasil menghalau bola sebelum sampai ke tangan Malouda. Pertandingan dilanjutkan sebentar, dan liverpool menang. Benitez dengan dingin akan menyalami Grant kemudian lagu You’ll never walk alone pun berkumandang.
Saya lalu berhenti berandai-andai. One liner dari film SATC pun teringat.
... could’ve, would’ve, should’ve....
Sangat tepat untuk menggambarkan hasil pertandingan tadi.
Tapi tenang saja...mengalahkan Chelsea di kandang bukan suatu kemustahilan. Saya tahu anak-anak Benitez ini akan berlari lebih kencang, melompat lebih tinggi dan bekerja lebih keras dari pemain Chelsea di pertandingan selanjutnya.
They’re going to walk trough the storm...and they’re going to win!
YNWA
**
Komentar tidak penting:
1. Overall, permainan chelsea biasa-biasa saja. Mereka memang sangat kuat di belakang, tapi kesulitan menembus pertahanan liverpool (golnya aja dikasih Riise gitu loh). Drogba tampil tidak sesemangat dan sengotot biasanya. Semangat satu-satunya yang ia keluarkan adalah waktu ia berteriak-teriak ke arah suporter Chelsea sambil mengepalkan tangan setelah peluit panjang dibunyikan (ya elah....kayak gol itu hasil sumbangsih lo aje)
2. Another bad example from Terry. I really didn’t understand why he have to run toward Torres. I mean, he have the option to stop or to go to the other direction. Why the h*** did he need to do such an act like that! It reminds me of what he have done to Deco, in the previous UCL. As I recall, Terry intentionally kicked the ball to Deco, who have already fallen to the ground. Errrr....shame on you, Terry!! You should never be the English captain with an attitude like that.
3. Another good example from Kuyt. He deserves a high credit with his tireless effort running back and fort. And that goal! 50% of that goal comes from him. Really really admiring him. Kudos to Kuyt!
- Leave your comment • Category: 2007/2008, Champions League, Chelsea, Liverpool
- Share on Twitter, Facebook, Delicious, Digg, Reddit
Posting Komentar